Membeli produk goods dan service tentu saja beda, baik dari fase pre-purchase, purchase dan post-purchase. Dalam tulisan saya kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya dalam membeli dua produk yang berbeda tersebut.
Pengalaman membeli hand phone Samsung Galaxy 5
Pengalaman saya membeli hp ini sudah saya ceritakan di post blog saya sebelumnya. Kali ini saya tidak akan menceritakan bagaimana teknisnya, tetapi akan saya akan menjelaskannya melalui konsep buying decision.
Problem Recognition
Fase pertama yang saya lalui adalah mengidentifikasi masalah saya. Masalah saya adalah saya tidak bisa berkomunikasi dengan rekan dan kerabat saya untuk jarak jauh. Di sini saya harus menemukan sesuatu untuk memecahkan masalah saya. Dan jawabannya adalah telepon selular. Selain itu saya juga punya masalah lainnya, yaitu terkadang saya merasa bosan. Karena itu saya butuh suatu hiburan yang bisa menghilangkan rasa bosan itu. Maka dari itu dari kedua masalah tadi, saya membutuhkan suatu produk dimana produk tersebut bisa berfungsi sebagai alat komunikasi sekaligus sebagai hiburan. Maka dari itu saya memutuskan untuk membeli sebuah ponsel yang juga terdapat berbagai fitur hiburan di dalamnya.
Information Search
Setelah saya mengenali masalah saya, maka saya berusaha mencari informasi mengenai produk yang bisa memecahkan masalah saya. Dalam hal ini saya mencari informasi melalui internet dan tabloid Pulsa seperti yang saya ceritakan pada posting saya sebelumnya.
Alternative Evaluation
Di sini saya sudah mendapatkan beberapa calon produk yang akan saya beli. Pertimbangan dilakukan berdasarkan beberapa faktor, yaitu spesifikasi, harga, bentuk dan model, merk, dan lain-lain.
Purchase Decision
Nah di sinilah terjadi sesuatu yang tidak terduga. Di mana Samsung Galaxy 5 yang sebelumnya tidak termasuk di dalam alternative berhasil menarik perhatian saya. Hal ini dikarenakan karena memang produk tersebut memenuhi criteria saya, namun saya sebelumnya tidak mengetahui informasi produk tersebut. Saya baru mengetahuinya ketika saya sudah berada di counter Samsung, kemudian saya membaca brosur yang ada dan mencoba contoh produknya. Di sini produk Samsung Galaxy 5 berhasil memberikan saya stimulus untuk langsung membeli produk tersebut.
Post-Purchase
Setelah saya membeli produk tersebut, saya merasa puas dengan kinerja produk tersebut dalam memecahkan masalah saya. Bahkan produk tersebut jauh melebihi ekspektasi saya. Oleh karena itu sekarang saya jadi rajin mengunjungi forum android maupun membaca artikel-artikel mengenai ponsel android. Saya juga merekomendasikan teman-teman saya untuk menggunakan ponsel android.
Hal yang membedakan dalam proses buying decision dalam produk goods dan service adalah dalam produk goods, sering terjadi stimulus di luar dugaan dimana kita bisa tiba-tiba memutuskan untuk membeli produk yang tidak kita rencanakan sebelumnya. Hal itu terjadi karena kita tiba-tiba merasa tertarik dengan produk yang terpajang di etalase, tertarik dengan SPG (dan terpaksa membeli produknya), “lapar mata”, atau hal lainnya. Berbeda dengan produk service yang umumnya segala sesuatu akan direncanakan dengan matang-matang. Jarang kita menemukan orang yang tiba-tiba ingin menginap di hotel karena melihat bangunan hotel yang megah, tiba-tiba ingin potong rambut karena karyawan salon yang cantik atau tampan, ataupun tiba-tiba memutuskan untuk naik pesawat ketika melewati bandara.


